Pages

Minggu, 06 Maret 2011

Pengaruh Pupuk N dan P terhadap hasil tanaman jarak pagar Varietas IP-3P di dataran rendah



BAB I
Jarak pagar (Jatropha curcas L.) merupakan tumbuhan semak berkayu yang banyak ditemukan di daerah tropik. Walaupun telah lama dikenal sebagai bahan pengobatan dan racun, saat ini jarak pagar makin mendapat perhatian sebagai sumber bahan bakar hayati untuk mesin diesel karena kandungan minyak  di dalam bijinya. Jarak pagar merupakan salah satu tanaman yang berpotensi sebagai sumber bahan bakar alternatif pengganti bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia. Tanaman jarak pagar merupakan salah satu komoditas sumber energi terbaru yang mudah dibudidayakan di kawasan pedesaan. Rendemen minyak dalam biji jarak pagar 27,5-37% (Basuki dan Tirtosuprobo, 2008).
Krisis energi yang melanda dunia sebagai akibat kelangkaan sumber bahan bakar fosil telah menyebabkan naiknya harga bahan bakar minyak (BBM). Kondisi ini telah mendorong pemerintah untuk mengupayakan penghematan energi nasional dari bahan yang dapat diperbaharui, khususnya tanaman jarak pagar.
Tanaman jarak pagar sangat potensial sebagai penghasil minyak nabati yang dapat di olah menjadi bahan minyak pengganti minyak bumi (solar dan minyak tanah). Tanaman jarak pagar selama ini tidak mendapat perhatian khusus karena penerapan kebijakan subsidi yang sangat besar untuk BBM sehingga mengolah minyak jarak tidak menguntungkan. Kini saatnya kita mulai memanfaatkan potensi jarak pagar secara maksimal. Kebijakan Pemerintah dalam pengembangan Bahan Bakar Nabati (Biofuel) melalui Program Pengembangan Jarak Pagar adalh pengembangan induhstri hilir dan nilai tambah, khususnya skala kecil (rumah tangga, kelompok dan koperasi), dukungan pembiayaan dan optimalisasi lahan kritis untuk pengembangan jarak pagar secara missal.
Di Kuba, jarak pagar digunakan sebagai pohon pelindung tanaman kopi dan tiang panjat hidup tanaman panili (Henning, 1998). Menurut Suryadarma (2005) minyak jarak yang diolah melalui proses reaksi kimia (metanolisis/etanolisis) dapat menghasilkan biodisel. Selain itu, minyak jarak dapat diolah menjadi bahan pembuatan sabun dan bahan industri kosmetik. Jarak pagar merupakan tanaman penghasil energi yang ramah lingkungan dan dapat diperbaharui. Jarak pagar juga dapat dimanfaatkan untuk memulihkan lahan pertanian yang sudah mengalami degradasi kesuburan akibat pertanian berpindah, pertambangan dan kerusakan-kerusakan akibat berbagai aktivitas manusia. Di Luxor, Mesir, jarak pagar juga digunakan untuk penghutanan kembali gurun pasir dengan bantuan sedikit pengairan (Hasnam, 2006).
Tanaman jarak pagar menghasilkan biji yang memiliki kandungan minyak cukup tinggi, yaitu sekitar 30-50%. Minyak yang dihasilkan dari tanaman jarak pagar sangat potensial untuk dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif (Erliza Hambali dkk., 2007). Minyak jarak pagar merupakan minyak yang berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku pembuatan biodiesel. Biodiesel memiliki keunggulan komparatif dibandingkan dengan bentuk energi lainnya (Andi, 2006).
Hasil seleksi populasi IP-2P di Pakuwon, Sukabumi, Jawa Barat dan IP-2A di Asembagus, Situbondo, Jawa Timur dengan standar produksi 500 kapsul/tanaman/tahun pada tahun-1 telah menghasilkan IP-3P dan IP-3A dengan perkiraan produktivitas 2,2-2,5 ton biji kering/ha pada tahun-1 ( Hasnam dkk,. 2009).
Kelebihan dari IP-3P antara lain memiliki potensi produksi 2,3 – 2,5 ton/ha/tahun untuk tahun pertama. Dan bisa mencapai 8 s.d 9 ton/ha pada tahun ke empat. Hasil ini jauh melampaui potensi produksi IP-2P yang hanya sekitar 6,0 - 6,5 ton/ha pada tahun yang sama. Kadar minyak dari produksi IP-3P adalah sebesar 36 persen (Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. 2009). Menariknya lagi tanaman dari populasi komposit asal Pakuwon ini sudah mulai berproduksi atau mulai berbuah 14 minggu setelah pemindahan ke lapangan (tranplanting) Sedangkan IP-3A memiliki potensi produksi 2 – 2,5 ton/ha/tahun untuk tahun pertama , dan bisa mencapai 8 s.d 8,5 ton/ha pada tahun ke empat. Dengan kadar minyak 35 persen. Kedua populasi ini telah ditetapkan sebagai sumber benih jarak pagar oleh Direktur Jenderal Perkebunan pada melalui SK Nomor 182/Kpts/SR.120/08/2009. Sehingga bahan tanam dari kedua populasi ini dapat digunakan oleh masyarakat. Namun saat ini bahan tanam IP-3P baru dapat diperoleh di Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Bogor.
Pada kondisi hujan optimal (1200-1500 mm/tahun) serta ketersediaan hara cukup,kedua populasi tersebut mampu menghasilkan 5-6 ton/ha pada tahun-III atau 8-9 ton/ha pada tahun-IV sampai tanaman berumur 30 tahun. Kandungan minyak berkisar 33-36% yang bervariasi menurut musim panen. Tanaman dapat dipanen dua kali dalam setahun tanaman sangat rentan didaerah kering dengan curah hujan kurang dari 500 mm/tahun. Tanaman jarak pagar yang sedang berbunga sangat sensitif terhadap hujan berintensitas tinggi.
Minyak jarak pagar diharapkan menjadi minyak atau minyak non-pangan sebagai bahan baku utama pembuatan biodesel. Hambatan utama yang dihadapi dalam pengembangan biodesel dari minyak pagar adalah ketersediaan bahan baku yang masih sangat rendah, mengingat perkebunan tanaman jarak pagar baru dikembangkan. Oleh karena itu, diperlukan percepatan usaha budidaya jarak pagar yang produktif untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri biodesel nasional (Andi, 2006).
Budidaya tanaman jarak pagar erat kaitannya dengan kegiatan pemupukan. Tujuan pemupukan yaitu, menambahkan unsur hara untuk melengkapi ketersediaan unsur hara dan juga menggantikan unsur hara yang miskin dalam tanah. Pupuk diperlukan oleh tanaman untuk memenuhi kebutuhan unsur hara guna mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman jarak pagar. Sebagai pupuk dasar digunakan pupuk organik dan pupuk anorganik. Pemupukan yang dilakukan harus efektif dan efisien, sehingga pemberian pupuk yang dilakukan bisa dimanfaatkan oleh tanaman secara optimal. Selain itu, dosis pupuk juga perlu diperhatikan, karena jika pupuk yang diberikan berlebihan maka tanaman bukannya merespon tetapi tanaman dapat mengalami keracunan karena unsur hara yang diserapnya berlebih. Pemupukan yang optimal tanaman jarak diharapkan dapat menghasilkan biji jarak yang optimal. Biji yang tumbuh dengan optimal maka kadar minyak akan optimal pula. Korelasi antara kandungan minyak dengan berat biji sangat berkaitan erat (R.E.E Jongschaap et.al.,2007).
Unsur nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K) merupakan unsur hara terpenting yang mempengaruhi pertumbuhan jarak. R.E.E Jongchaap et al. (2007) mengemukakan bahwa N, P dan K merupakan hara kunci yang diperlukan untuk pembentukan akar, batang, cabang, daun, bunga, buah dan biji. Kekurangan unsur N dapat menyebabkan daun kecil, dan jumlah cabang berkurang.Kekurangan unsur P dapat mengakibatkan kelebihan produksi antosianin, kematangan tanaman tertunda, daun tua mati (Licoln Taiz and Eduardo Zeiger, 2006). Pupuk nitrogen (N) dan pupuk fosfor (P) merupakan pupuk anorganik dengan unsur hara makro. Peranan nitrogen bagi tanaman untuk merangsang pertumbuhan secara keseluruhan khususnya batang, cabang dan daun (sebagai penyusun unsur klorofil daun). Peranan fosfor yaitu untuk proses pertumbuhannya dan merangsang pertumbuhan akar khususnya tanaman muda (bibit) (Erliza Hambali dkk., 2007). Penggunaan pupuk nitrogen (N) dan pupuk fosfat (P) sangat berpengaruh terhadap produksi biji jarak pagar. Aplikasi nitrogen pada tanaman jarak pagar khususnya dapat meningkatkan pertumbuhan vegetatif  pada tanaman jarak pagar. Aplikasi pupuk fosfat pada tanaman jarak pagar dapat mempengaruhi pembentukan akar, dan meningkatkan bobot kering buah dan biji jarak pagar.
Tanaman jarak pagar dapat tumbuh di dataran rendah bahkan dipinggir pantai sampai ketinggian lebih dari 1000 m di atas permukaan laut (dpl), Namun daerah yang optimum untuk pengembangan jarak pagar adalah daerah dengan ketinggian 0 – 500 m dpl (Heller, 1996). Jarak pagar ini memiliki daya adaptasi yang luas akan tetapi untuk mendapatkan hasil yang optimal harus sangat diperhatikan unsur hara dan kecukupan air bila jarak pagar harus ditanam di daerah yang relatif kering dengan intesitas radiasi yang tinggi karena kondisi kering dapat menyebabkan daun tanaman gugur dan produktivitasnya menurun.
Jarak pagar dapat tumbuh pada tanah-tanah yang ketersediaan air dan unsur haranya terbatas atau lahan-lahan marginal, tetapi lahan dengan air tidak tergenang merupakan tempat yang optimal bagi tanaman ini untuk tumbuh dan berproduksi secara optimal. Bila perakarannya sudah cukup berkembang, jarak pagar dapat toleran terhadap kondisi tanah-tanah masam atau alkalin (terbaik pada pH tanah 5.5-6.5) (Heller, 1996; Arivin dkk, 2006).
Masalah yang dapat diidentifikasi adalah :
Maksud dari penelitian ini adalah mengetahui interaksi dosis pupuk N dan pupuk P terhadap hasil tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) serta memperoleh dosis pupuk N dan pupuk P yang memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.).
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan bahan informasi kepada petani tentang interaksi dosis pupuk N dan pupuk P optimum yang memberikan pengaruh terbaik pada tanaman jarak pagar, sehingga dapat menghasilkan tanaman yang berkualitas tinggi untuk penanaman di lapangan dan memberikan informasi kepada petani tentang dosis pupuk N dan P optimum untuk perolehan hasil yang maksimum.
Konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang terus meningkat menyebabkan cadangan minyak bumi semakin berkurang padahal kebutuhan akan bahan bakar minyak selalu tinggi setiap tahunnya. Kondisi ini mendorong dilakukannya upaya untuk mendapatkan sumber energi alternatif yang dapat diperbaharui, tahan pada kondisi lahan marjinal dan dapat dikembangkan secara luas di Indonesia. Salah satu tanaman yang diketahui memiliki potensi sebagai penghasil bahan bakar nabati (biofuel) ialah tanaman jarak pagar. Biji jarak pagar merupakan salah satu sumber minyak nabati yang sangat prospektif untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku biodisel (Sri Mulyaningsih dkk., 2006). Tanaman Jarak Pagar (Jatropha curcas L.)  penghasil biodisesel diharapkan dapat mengatasi persoalan BBM dalam negeri. Pengembangan tanaman Jarak pagar (Jatropha curcas L.) sebagai bahan baku biodiesel mempunyai potensi yang sangat besar karena selain menghasilkan minyak dengan produktivitas tinggi, juga dapat berfungsi sebagai pengendali erosi serta memperbaiki tanah. Strategi pengembangan industri biodiesel jarak pagar harus dilakukan secara terintegrasi dengan cara memaksimalkan potensi yang dimiliki tanaman jarak pagar. Daya tarik tanaman jarak pagar digunakan sebagai bahan baku energi terbarukan karena dua alasan sebagai berikut, yaitu tersebar luas di kawasan tropis dan subtropis dan minyak jarak pagar adalah minyak yang dihasilkan tidak dapat dikonsumsi oleh manusia sehingga tidak mengalami persaingan dengan minyak untuk pangan.
Menurut Hartadi (2006) Tanaman jarak pagar dapat dipanen terus menerus sampai 50 tahun dan tahan hidup di lahan kritis atau tandus yang berarti tanaman ini sangat produktif. Kemampuan berproduksi suatu tanaman sangat dipengaruhi oleh faktor kesuburan tanah dan material-material unsur hara yang menunjang pertumbuhan tanaman.  Permintaan minyak jarak pagar akan terus meningkat sejalan dengan semakin digalakkannya penggunaan biodiesel di Indonesia, usaha untuk memenuhi kebutuhan tersebut perlu diadakan mengoptimalkan produksi tanaman jarak pagar. Tanaman jarak pagar yang diproduksi harus tumbuh secara cepat dan sehat.
Dalam rangka mendukung pemerintah di dalam pengembangan tanaman jarak pagar sebagai sumber energi alternatif pengganti bahan bakar minyak yang menghasilkan minyak biodisel, diperlukan bibit jarak pagar dalam jumlah yang cukup besar dan dapat beradaptasi di lingkungan ekstrim. Oleh karena itu, perlu upaya untuk mendapatkan bibit dalam jumlah yang besar dengan waktu yang relatif singkat dan dengan biaya terjangkau juga memiliki kualitas yang baik.
Salah satu teknik budidaya yang biasa dilakukan untuk memacu pertumbuhan dan peningkatan produktivitas tanaman adalah dengan melakukan pemupukan. Pemupukan berfungsi untuk menambahkan zat hara yang diperlukan tanaman ke dalam tanah agar diperoleh pertumbuhan dan hasil tanaman yang lebih baik serta mengganti zat hara yang terangkut pada waktu panen dan yang terikat oleh tanah. Unsur hara yang diperlukan ditentukan oleh kandungan hara total dan unsur hara yang disediakan oleh tanah bagi pertumbuhan tanaman. Unsur hara yang diambil oleh tanaman ditentukan pula oleh nilai tukar kation dan tingkat pelapukan bahan induknya sendiri (Wahid, 1988).
Upaya peningkatan efisiensi pemupukan dapat dilakukan melalui program empat tepat dalam pemupukan, yaitu tepat dosis, tepat jenis, tepat waktu dan tepat cara pemberiannya. Pada umumnya, pemupukan pada tanaman jarak pagar menggunakan pupuk anorganik. Penggunaan pupuk anorganik yaitu pupuk yang dibuat oleh pabrik dengan cara menambahkan bahan kimia (anorganik) dengan kadar hara tinggi. Pupuk anorganik sudah sering dipakai oleh kalangan petani, pengusaha ataupun pemerintah. Contoh pupuk anorganik yang sebagian besar digunakan petani adalah urea (mengandung unsur hara N), SP-36 (mengandung unsur hara P), dan KCl (mengandung unsur hara K).
Semua tanaman memerlukan nutrisi untuk pertumbuhannya yang diambil dari dalam tanah. Hal ini yang menyebabkan tanah akan mengalami penurunan unsur hara. Oleh karena itu, diperlukan tambahan nutrisi ke dalam tanah melalui pemupukan. Unsur hara utama yang diperlukan oleh tanaman adalah unsur nitrogen (N) dan fosfor (P). Peranan N bagi tanaman untuk merangsang pertumbuhan secara keseluruhan khususnya batang, cabang, dan daun. Peranan P yaitu untuk proses pertumbuhannya dan merangsang pertumbuhan akar khususnya tanaman muda (bibit) (Erliza Hambali dkk., 2007). Pupuk nitrogen dan pupuk fosfor sangat berkaitan erat. Mengingat fosfor berperan dalam translokasi dalam tubuh tanaman, Apabila tanaman kekurangan P maka penyerapan tanaman terhadap unsur N juga akan berkurang. Unsur N yang berkurang dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman tidak optimal.
Penggunaan pupuk N dan pupuk P sangat berpengaruh terhadap produksi biji jarak pagar. Aplikasi nitrogen pada tanaman jarak pagar khususnya dapat meningkatkan pertumbuhan vegetatif pada tanaman jarak pagar. Aplikasi pupuk P pada tanaman jarak pagar dapat mempengaruhi pembentukan akar, dan meningkatkan bobot kering buah dan biji jarak pagar. R.E.E Jongschaap et.al (2007) mengemukaan pemupukan yang optimal tanaman jarak pagar diharapkan dapat menghasilkan biji jarak yang optimal maka kadar minyak akan optimal pula.
Untuk meningkatkan produktivitas tanaman jarak pagar perlu dilakukan pemupukan. Peningkatan takaran pupuk N dari 0 menjadi 90 kg N/ha dapat meningkatkan tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah tandan, jumlah buah, bobot 100 biji, dan hasil biji sebesar 122,18 kg/ha pada panen tahun pertama (Romli et al. 2007). Namun, hasil penelitian pada tanaman jarak kepyar menunjukkan takaran pupuk N 45 kg/ha merupakan dosis yang optimal (Romli dan Soenardi 1993). Pupuk P dan K baru dibutuhkan bila tanah kahat unsur hara (Romli et al. 1999). Pengujian pemupukan perlu dilakukan karena umumnya pemupukan tanaman masih terbatas pada unsur hara makro N, P, dan K (Machfud 2004).
Beberapa hasil penelitian melaporkan pengaruh yang positif dari pemberian pupuk nitrogen (N) pada macam-macam tanaman. Tanaman jagung manis (Zea mays saccharata S.) dosis pupuk N yang  digunakan ternyata berpengaruh nyata terhadap kadar gula dan keserempakan benih berkecambah. Dosis 400 kg/ha diperoleh keserempakan benih berkecambah tertinggi sebesar 73,3%, dan kadar gula tertinggi dicapai pada perlakuan dosis pupuk N 500kg/ha sebesar 16,5 % (Lega Mulyawidhi, 2008). Moch.Sahid Dkk. (2000) melaporkan pemupukan N 60 kg/ha pada tanaman kapas menunjukkan hasil kapas berbiji tertinggi yaitu 1 580.16 kg/ha.
Pupuk fosfat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pupuk SP-36 dengan kandungan P2O5 36%. Secara umum, tanaman jarak pagar memerlukan pemupukan terutama pupuk N. Pemberian pupuk N 72 g/pohon akan meningkatkan pertumbuhan vegetatif (tinggi tanaman dan jumlah cabang) dibandingkan dengan pemberian pupuk N 33 g/pohon dan tanpa pemberian N (Asep, S dan Ruskandi. 2008). Namun, hasil penelitian pada tanaman jarak kepyar menunjukkan takaran pupuk N 45 kg/ha merupakan dosis yang optimal (Romli dan Soenardi. 1993). Menurut Machfud (2004) takaran pupuk N yang berbeda menghasilkan jumlah buah dan bobot buah yang berbeda. Jumlah buah rata-rata pada perlakuan takaran pupuk N 36 g/pohon lebih tinggi dibanding perlakuan takaran pupuk N  72 g/pohon.
Penanaman jarak pagar untuk bahan baku minyak sebaiknya menggunakan bahan tanaman hasil pembibitan dari biji, karena tanaman dapat hidup lebih lama dan produksinya lebih tinggi daripada tanaman asal setek. Menurut Henning (2004), jarak pagar membutuhkan curah hujan minimal 600 mm/tahun. Jika curah hujan kurang dari 600 mm/tahun maka tanaman tidak dapat tumbuh, kecuali dalam kondisi tertentu seperti di Kepulauan Cape Verde dengan curah hujan hanya 250 mm/tahun tetapi kelembaban udaranya sangat tinggi. Di daerah-daerah dengan kelengasan tanah bukan menjadi faktor pembatas (misalnya irigasi atau curah hujan cukup merata), jarak pagar dapat berproduksi sepanjang tahun, tetapi tidak dapat bertahan dalam kondisi tanah jenuh air. Iklim yang kering akan meningkatkan kadar minyak biji, tetapi kekeringan yang berkepanjangan menyebabkan tanaman menggugurkan daun sehingga pertumbuhan tanaman terhambat (Jones dan Miller 1992). Pada daerah dengan curah hujan tinggi seperti di Bogor, tanaman memiliki pertumbuhan vegetatif yang lebat tetapi pembentukan bunga dan buah kurang (Arivin dkk. 2005) melaporkan bahwa di Desa Cikeusik Malingping, Banten, dengan curah hujan 2.500−3.000 mm/tahun, tanaman jarak pagar dapat berbunga dan berbuah. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan (2006) mengemukakan bahwa tipe iklim sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi jarak pagar. Jarak pagar tumbuh baik di lahan kering dataran rendah beriklim kering dengan ketinggian tempat < 500 m dpl, curah hujan 300 mm -1.000 mm/tahun, serta suhu > 20°C. Berdasarkan pengamatan di lapangan terutama yang berkaitan dengan perkembangan jarak pagar di masyarakat, ternyata masih menghadapi berbagai kendala teknis, seperti teknologi budidaya yang belum optimal dan sangat bervariasi seperti pemupukan rendah, pemangkasan belum dilakukan, belum menggunakan benih bermutu, dan gulma dibiarkan bersaing dengan tanaman.
Mengingat pentingnya tanaman jarak pagar bagi kelangsungan hidup manusia maka dilakukan penelitian ini, untuk meningkatkan produksi biji jarak yang dapat dimanfaatkan minyak jaraknya sebagai biodesel. Dan penelitian tentang pengaruh pupuk nitrogen dan fosfor terhadap hasil tanaman jarak pagar khususnya di dataran rendah dengan jenis tanah inseptisol dan ketinggian ± 50 m di atas permukaan laut (dpl) belum banyak dilakukan sehingga penulis merasa perlu melakukan penelitian ini. 

 BAB II
2..1      Klasifikasi Tanaman Jarak Pagar
 Jarak pagar (Jatropha curcas L.) masuk ke dalam famili Euphorbiaceae yang berpotensial sebagai tanaman penghasil minyak untuk bahan bakar. Klasifikasi tanaman jarak pagar adalah sebagai berikut.
Divisio              : Spermatophyta
Subdivisio         : Angiospermae
Classis               : Dicotyledoneae
Ordo                 : Euphorbiales
Familia              : Euphorbiaceae
Genus               : Jatropha
Species              : Jatropha curcas L.
(Linnaeus, 1753 dikutip Erliza Hambali dkk., 2007)
Tanaman jarak pagar berupa perdu dengan tinggi 1-7 m, bercabang tidak teratur. Batangnya berkayu, silindris, dan bila terluka akan mengeluarkan getah berwarna putih. Pertumbuhan tanaman tidak terus menerus karena ada masa dormansi yang dipengaruhi oleh curah hujan, suhu, dan cahaya. Tanaman ini mampu bertahan hidup sampai berumur 50 tahun. Perbanyakan jarak pagar bisa dengan biji maupun setek. Biji yang berkecambah akan tumbuh lima akar, yaitu sebuah akar tunggang dan empat akar cabang (lateral).
Jenis tanaman jarak yang tumbuh di Indonesia, antara lain : jarak kepyar (Ricinus communis), jarak bali (Jatropha podagrica), jarak ulung/jarak landi (Jatropha gossypifolia), dan jarak pagar (Jatropha curcas). Jenis-jenis tanaman jarak tersebut, yang berpotensi sebagai penghasil minyak bakar nabati (biofuel) adalah jarak pagar (Jatropha curcas L.) dalam bahasa Inggris disebut ”Physic Nut”. Physic Nut diduga berasal dari Meksiko dan saat ini telah menyebar di berbagai daerah di dunia. Secara ilmiah, jarak pagar memiliki nama Jatropha curcas L., dalam bahasa Yunani, Iatrós berarti dokter, sedangkan trophé berarti makanan, sehingga Jatropha curcas L. memiliki arti tanaman obat, namun tanaman ini juga dikenal sebagai penghasil minyak lampu.
Jarak pagar (Jatropha curcas L.) adalah tanaman multifungsi, karena disamping merupakan tanaman obat (bijinya untuk obat sembelit, getahnya untuk obat luka, daunnya sebagai obat malaria), dapat menghasilkan bahan bakar alternatif, dan kulit buah/kapsul dapat dijadikan kompos.
Di Indonesia, jarak pagar juga dikenal dengan nama jarak kosta, jarak paer, atau jarak wolanda. Nama tanaman jarak pagar sesuai dengan daerahnya menurut Heyne (1987) adalah nawaih nawas (Aceh); balacae (Manado) ; damar ende (Timor) ; jirak (Minangkabau) ; jarak kosta (Sunda) ; jarak budeg, jarak gundul, jarak iri, jarak pager, jarak cina (Jawa); kaleke, kaleke paghar (Madura); jarak pageh (Bali); kuman nema (Alor); beaw (Sulawesi Utara); bintalo, biau (Gorontalo); tondo ntomene (Baree); tangang-tangang kali kanjoli (Makasar); peleng kaliki (Bugis); lulu nau, lulu ai fula (Rote); paku kase, paku luba, paku lumat (Timor); muun mav (Kai); malate (Seram Timur); makamale, ai bua kamale (Seram Barat); ai hua kamalo, ai kamane, yaibua kamalo (Seram Selatan); balacai (Halmahera Selatan); bolacai, kadoto (Halmahera Utara); dan balacai bisa (Ternate dan Tidore).
Daun jarak pagar berupa tulang daun menjari, hijau tua, ujung daun agak meruncing, pinggir daun berlekuk dangkal sedikit bergelombang, panjang daun 15 cm dan lebar daun 13 cm. Panjang tangkai daun 13-16 cm, Persemaian 6 minggu, mulai berbunga 6 minggu setelah pemindahan ke lapang (transplanting), dan mulai panen 14 minggu setelah transplanting. Menurut van Steenis dkk (1988), bunga tersusun pada malai yang bercabang melebar , berupa bunga-bunga tunggal. Panjang tangkai bunga antara 6-23 mm. Daun kelopak berjumlah 5 helai, berbentuk bulat telur, dengan ukuran panjang 4 mm. Bunga secara keseluruhan berbentuk lonceng. Jumlah malai per tanaman pada tahun 1 rata-rata 60 malai.
Bunga jarak pagar berupa bunga majemuk berbentuk malai, berwarna kuning kehijauan, berkelamin tunggal (uniseksual), dan berumah satu (putik dan benang sari dalam satu tanaman). Bunga jarak muncul di ujung batang (terminal) atau di ketiak daun. Bunga jarak pagar memiliki 5 sepal dan 5 petal yang berwarna hijau-kekuningan. Bunga jantan mempunyai 10 tangkai sari yang tersusun dalam dua lingkaran yang menyatu berbentuk tabung; kepala sari pecah melintang. Jumlah bunga jantan lebih banyak daripada bunga betina, namun ukuran bunga betina lebih besar daripada bunga jantan, dan terdiri atas ovari (bakal buah) yang beruang 5, yang masing–masing berisi satu ovule (bakal biji). Jarak pagar mulai berbunga setelah berumur 3-4 bulan. Masa berbunga 3–4 hari dan penyerbukannya dibantu oleh serangga.
Penyerbukan dilakukan oleh serangga, terutama lebah madu, karena bunganya manis, harum diwaktu malam, berwarna putih kehijauan. Di Senegal diamati bahwa bunga-bunga jantan terbuka lebih lambat dari bunga betina. Sesudah penyerbukan terbentuk buah (kapsul) tiga ruang yang setiap ruangnya berisi satu biji berbentuk lonjong (trilocular ellipsoidal). Panjang buah 2 cm dengan ketebalan sekitar 1 cm. Buah berwarna hijau ketika muda serta abu-abu kecoklatan atau kehitaman ketika masak.
Tanaman jarak pagar mempunyai 3-5 akar tunggang. Saat biji berkecambah, muncul 3-5 helai akar yang selanjutnya berkembang menjadi akar tunggang setelah tanaman dewasa. Akar tunggang tanaman ini cukup dalam dan terlihat tebal . Dari akar tunggang muncul akar lateral yang melebar ke samping dan rambut-rambut akar yang cukup banyak. Radius penyebaran akar antara 0,5 meter sampai beberapa meter dari pokok tanaman, tergantung dari varietasnya. Umumnya akar-akar muda terletak di bawah lingkaran kanopi terluar dari tanaman.
Kulit batang bertekstur halus, berwarna keabu-abuan atau kemerah-merahan. Ranting yang masih muda umumnya berwarna kehijau-hijauan. Batang yang tertoreh mengeluarkan getah. Batang tanaman beruas-ruas, pada setiap mata ruas terdapat titik tumbuh daun atau cabang. Percabangannya tidak teratur, dengan ranting bulat dan tebal. Panjang masing-masing ruas batang bervariasi, tergantung varietasnya. Diameter pangkal batang sekitar 5- 7 cm.
Jumlah buah (kapsul) per tanaman pada tahun pertama 500-550 buah, berat 1000 biji 685 gram (pada kadar air 7 %), potensi produksi (kondisi optimal) 2,3-2,6 ton/ha/tahun-1. Kadar minyak 36 % (dengan oil-expeller 10 HP), dan asam lemak bebas kurang dari 2 (tergantung pada tindakan pada pasca panen).
Berbagai pihak mengemukakan bahwa tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) dapat tumbuh dan berkembang dengan baik di lahan- lahan marginal (kritis) dengan budidaya sederhana, bahkan ada yang mengemukakan tumbuh dengan baik tanpa dipupuk. Sementara itu, tanaman ini belum banyak dibudidayakan secara khusus, umumnya ditanam sebagai tanaman pagar untuk pembatas kebun dan untuk bahan obat tradisional. Penanamannya dilakukan dengan menggunakan setek batang tanpa melakukan pengolahan tanah dan pemupukan.
Tipe iklim sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dari produksi jarak pagar. Kondisi iklim yang tidak mendukung mengakibatkan produktivitasnya rendah, sehingga tidak cocok untuk mengusahakannya dalam bentuk perkebunan (skala luas) guna diolah lanjut menjadi minyak.
Upaya untuk mengatasi masalah kekeringan adalah dengan melakukan penyiraman atau irigasi. Dengan meningkatkan kemampuan tanah menyimpan air, resiko terjadinya kekurangan air dapat ditekan dan efisiensi dalam tenaga kerja. Air sangat berperan dalam proses-proses fisiologi tumbuhan. Dalam kehidupan tanaman, air merupakan faktor lingkungan yang paling berpengaruh, sehingga ketersediaan air merupakan faktor pembatas bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Prawiranata dan Tjondronegoro, 1992). Peranan air bagi kehidupan tanaman telah banyak diketahui, antara lain pelarut bagi unsur-unsur hara mineral dalam tanah dan tumbuhan, sebagai medium maupun pereaksi dalam metabolisme, serta mengatur pergerakan bagian-bagian tanaman (Soedarsono, 1997).
Jarak pagar (Jatropha curcas L.) tumbuh baik di lahan kering dataran rendah beriklim kering (LKDRIK) dengan ketinggian 0 – 500 m dpl dan curah hujan 300 – 1000 mm per tahun, dengan suhu > 20oC. Pada daerah dengan suhu terlalu tinggi (di atas 35oC) atau terlalu rendah (di bawah 15oC) akan menghambat pertumbuhan serta mengurangi kadar minyak dalam biji dan mengubah komposisinya (Erliza dkk., 2007).
Tanaman ini dapat tumbuh pada semua jenis tanah, tetapi pertumbuhan yang lebih baik dijumpai pada tanah-tanah ringan atau lahan-lahan dengan drainase dan aerasi yang baik (terbaik mengandung pasir 60-90%). Tanaman ini dapat pula dijumpai pada daerah-daerah berbatu, berlereng pada perbukitan atau sepanjang saluran air dan batas-batas kebun (Arivin dkk., 2006). Tanaman jarak pagar yang ditanam pada tanah bertekstur lempung berpasir memberikan hasil biji tertinggi daripada tanah bertekstur lainnya. Selanjutnya Jones dan Miller (1992) mengemukakan bahwa meskipun jarak pagar terkenal dapat tumbuh dengan baik di tanah yang dangkal dan pada umumnya ditemukan tumbuh di tanah berkerikil, berpasir, dan berliat, tetapi di tanah yang tererosi berat pertumbuhannya mungkin kerdil.      
Jarak pagar dapat tumbuh pada tanah-tanah yang ketersediaan air dan unsur-unsur haranya terbatas atau lahan-lahan marginal, tetapi lahan dengan air tidak tergenang merupakan tempat yang optimal bagi tanaman ini untuk tumbuh dan berproduksi secara optimal. Bila perakarannya sudah cukup berkembang, jarak pagar dapat toleran terhadap kondisi tanah-tanah masam atau alkalin (terbaik pada pH tanah 5.5-6.5) (Arivin dkk, 2006). Jones dan Miller (1998) menyatakan untuk mendapatkan produksi yang baik pada tanah miskin hara dan alkalin, tanaman ini perlu dipupuk dengan pupuk buatan atau pupuk organik/kandang, yang mengandung sedikit kalsium, magnesium dan sulfur. Sedangkan pada daerah-daerah dengan kandungan fosfat yang rendah, penggunaan mikoriza dapat membantu pertumbuhan tanaman jarak.
Jarak Pagar varietas IP-3P merupakan hasil seleksi rekuren pada populasi IP-2P. Warna daun hijau tua, tulang daun menjari, ujung daun agak meruncing, pinggir daun berlekuk dangkal sedikit bergelombang. Panjang daun 15 cm dan lebar daun 13 cm.  Panjang tangkai 13-16 cm. Lama persemaian 6 minggu, umur mulai berbunga 6 minggu setelah pemindahan (MSP)/transplanting , dan umur mulai panen 14 MSP. Pada tahun I, jumlah malai sekitar 60 malai/tanaman dengan jumlah buah 500-550 buah/tanaman. Berat per 1000 biji adalah 685 gram pada kadar air 7% ( Hasnam dkk,. 2009).
Keunggulannya memiliki potensi produksi tinggi, pada umur muda dapat ditumpangsarikan dengan tanaman lainnya, dan kandungan minyak 33-36%
Tanaman ini berpotensial dikembangkan secara komersial oleh agroindustri di bidang energi dalam rangka mewujudkan desa mandiri energi dan membangun energi masa depan.
            Pembibitan adalah kegiatan menanam kecambah yang berasal dari biji pada suatu media tanam, sehingga bibit tersebut siap ditanam di areal perkebunan. Pemeliharaan pada pembibitan akan menentukan berhasil atau tidaknya suatu tanaman. Pembibitan yang paling baik adalah pembibitan yang memenuhi beberapa syarat, salah satunya adalah penyiapan untuk benih (Heddy, 1990). Untuk benih hendaknya biji berasal dari buah yang dipanen setelah berwarna kuning dan dikeringkan anginkan pada tempat yang teduh. Buah yang demikian akan memiliki biji yang berwarna hitam mengkilap dan umumnya berjumlah 1.500 biji per kg. Perkecambahan biji dilakukan dengan cara merendam biji-biji yang telah terpilih terlebih dahulu di dalam air selama semalam. Setelah itu, biji-biji dimasukkan ke dalam media pasir yang akan berkecambah setelah 3- 7 hari. Bibit dapat dipindahkan ke polibeg setelah 3-7 hari berkecambah, dengan menanam sedalam 3-5 cm bibit tersebut ke dalam polibeg. Biji dapat pula dikecambahkan langsung di dalam polibeg atau penanaman langsung di lapangan.
              Pemupukan adalah kegiatan pemberian unsur hara mineral ke dalam tanaman dengan tujuan untuk mendorong pertumbuhan tanaman, menigkatkan hasil, dan memperbaiki kualitas sebagai akibat dari perbaikan nutrisi tanaman. Pupuk merupakan zat yang berisi satu unsur hara atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsure-unsur yang habis diserap oleh tanaman dari dalam tanah (Pinus Lingga dan Marsono, 2006).
              Secara umum pupuk hanya dibagi dalam dua kelompok berdasarkan asalnya, yaitu :
1. Pupuk anorganik seperti urea (pupuk N) , TSP atau SP-36 (pupuk P), KCl (pupuk K)
2. Pupuk organik seperti pupuk kandang, kompos, humus, dan pupuk hijau.
Pupuk anorganik adalah pupuk yang dibuat oleh pabrik – pabrik pupuk dengan meramu bahan-bahan kimia (anorganik) berkadar hara tinggi.
Beberapa keuntungan dari pupuk anorganik, sehingga pupuk ini banyak diminati sampai sekarang, yaitu sebagai berikut :
1. Pemberiannya dapat diukur dengan tepat karena pupuk anorganik umumnya takaran              haranya tertentu.
2.  Kebutuhan tanaman akan hara dapat dipenuhi dengan perbandingan   yang tepat.
            Pada prinsipnya pemberian pupuk bertujuan untuk menambah ketersediaan unsur hara bagi tanaman. Jenis dan dosis pupuk yang diperlukan disesuaikan dengan tingkat kesuburan tanah setempat. Pemupukan yang dilakukan umumnya masih kurang tepat, dimana pupuk belum digunakan secara rasional sesuai dengan kebutuhan tanaman dan kemampuan tanah menyediakan unsur hara. Pemupukan belum didasarkan atas hasil uji tanah, sehingga akan memberikan dampak yang kurang menguntungkan terhadap sifat tanah dan lingkungan secara keseluruhan (Sabiham, 1996). Belum ada dosis rekomendasi khusus untuk tanaman jarak pagar ini. Jika asumsikan sama dengan jarak kepyar maka dosis pupuk untuk tanaman ini per hektar : 80 kg N, 18 kg P2O5 ,32 kg K2O, 12 kg CaO dan 10 kg MgO. Pupuk N diberikan pada saat tanam dan umur 28 hari setelah tanam (HST), sedangkan pupuk P, K, Ca dan Mg diberikan saat tanam. Pemberian pupuk organik disarankan untuk memperbaiki struktur tanah.                                    Nitrogen (N) merupakan salah satu hara makro yang menjadi pembatas utama produksi tanaman, baik di daerah tropis maupun di daerah-daerah beriklim sedang. Nitrogen merupakan hara esensial yang berfungsi sebagai bahan penyusun asam-asam amino, protein dan klorofil yang penting dalam proses fotosintesis (Black, 1976; Jones dkk. , 1991; Jones, 1998) serta bahan penyusun komponen inti sel. Unsur N sangat penting keberadaannya dalam pembentukan protein, merangsang pertumbuhan vegetatif dan meningkatkan hasil buah (Sutapradja dan Sumarni, 1996). Penambahan unsur nitrogen (N) berupa pemupukan perlu diupayakan terutama untuk tanah berkadar organik rendah agar status hara N tanaman cukup menopang produktivitasnya. Pupuk N mudah teroksidasi sehingga cepat menguap atau tercuci sebelum tanaman menyerap seluruhnya (Hairiah dkk., 2000). Unsur Fosfor (P) merangsang perakaran tanaman, berat bahan kering, berat biji, mempercepat rasa kematangan serta mempertinggi daya resistensi terhadap serangan penyakit tanaman oleh cendawan.           
                       
 BAB III

3..1      Tempat dan waktu percobaan
Percobaan di kebun masyarakat Kecamatan Plered Kabupaten Cirebon ,yang memiliki ketinggian tempat ± 50 m di atas permukaan laut (dpl), dengan jenis tanah Inseptisol, pH 4,8-5,6. Dan tipe curah hujan D menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson (1951). Penelitian ini dilakukan dari bulan agustus 2010 sampai dengan Januari 2011.
3..2      Bahan dan alat percobaan
            Bahan yang diperlukan dalam percobaan ini adalah benih jarak pagar IP-3P sebanyak 500 buah. Pupuk dasar yang dipakai adalah Urea, SP-36 (masing-masing sesuai perlakuan) serta 10 g KCl/tanaman. Polibeg hitam dengan ukuran 25cm × 20cm yang digunakan sebagai wadah media tanam di pembibitan dan lahan/kebun percobaan yang sekitar lokasi percobaan dicampur dengan pupuk kotoran sapi (2 kg/lubang). Untuk mengendalikan hama digunakan pestisida jenis furadan 5 gram/tanaman.
Sedangkan peralatan yang digunakan pada percobaan ini yaitu ember untuk penyeleksian benih dengan cara merendam benih ke dalam air selama 24 jam, saringan tanah berdiameter lubang 2 mm, gembor untuk menyiram tanaman jarak selama percobaan berlangsung, alat-alat pengolahan tanah dan penyiangan gulma seperti cangkul, hand sprayer untuk menyemprotkan fungisida dan insektisida, timbangan analitik untuk mengukur bobot segar buah dan bobot segar biji serta mengukur berat pupuk, label dan papan nama, meteran untuk mengukur tinggi tanaman, jangka sorong untuk mengukur diameter batang, seperangkat alat untuk menghitung rendemen serta alat-alat tulis untuk mencatat hasil percobaan.
3.3       Metode Percobaan
3.3.1    Rancangan Percobaan
Metode percobaan yang digunakan adalah metode eksperimen. Rancangan yang digunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor yaitu dosis pupuk N dan dosis pupuk P.
Faktor I adalah dosis pupuk nitrogen (N), yang terdiri dari 4 taraf yaitu :
n0 = 0 kg N/ha
n1 = 50 kg N/ha
n2 = 100 kg N/ha
n3 = 150 kg N/ha
Faktor II adalah dosis pupuk fosfor (P), yang terdiri dari 4 taraf yaitu:
p0 = 0 kg P/ha
p1 = 15 kg P /ha
p2 = 30 kg P /ha
p3 = 45 kg P /ha
Pada percobaan ini terdapat 16 perlakuan dengan dua kali ulangan sehingga terdapat 16 x 2 = 32 satuan perlakuan. Jarak tanam yang digunakan adalah 1 m x 1 m dan jarak antar ulangan 2m. Setiap plot perlakuan terdiri dari 6 tanaman, sehingga seluruhnya terdapat 16 x 2 x 6 = 192 tanaman.
3.3.2    Rancangan Analisis
Model linier dari Rancangan Acak Kelompok pola Faktorial menurut Gasperz (1991) adalah sebagai  berikut:
Yijk = μ + Kk + Ai + Bj + (AB)ij + εijk
Keterangan :
Yijk                  = Nilai pengamatan dari kelompok ke-k yang menggunakan dosis pupuk N   00      00ke-i dan dosis pupuk P ke-j
μ          = Nilai rata-rata yang sesungguhnya
Kk        = Pengaruh dari kelompok percobaan ke-k
Ni         = Pengaruh faktor N taraf ke-i
Pj         = Pengaruh faktor P taraf ke-j
(NP)ij   = Pengaruh interaksi faktor N taraf ke-i dengan faktor P taraf ke-j
ε ijk       = Pengaruh galat pada kelompok percobaan ke-k yang memperoleh taraf   00000ke-i faktor N dan faktor P taraf ke-j
i           = Perlakuan ke-i (1,2,3,4...)
j           = Ulangan ke-j (1,2)


Berdasarkan model linear yang digunakan, dapat disusun analisis ragam seperti Tabel 1.
Tabel 1.  Analisis Ragam Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola Faktorial

Sumber Keragaman

Derajat Bebas

Jumlah Kuadrat

Kuadrat Tengah

F Hitung

F 0,5

Ulangan

r-1

JKK

JKK/(r-1)





Perlakuan

np-1

JKP

JKP/(np-1)

KTP/KTG



N

n-1

JK(N)

JK(N)/(n-1)

KT(N)/KTG



P

p-1

JK(P)

JK(P)/(p-1)

KT(P)/KTG



NP

(n-1)(p-1)

JK(NP)

JK(NP)/(n-1)(p-1)

KT(NP)/KTG



Galat

(np-1)(r-1)

JKG

JKT-JKP





Total

(rnp)-1

JKT






Sumber : Gasperz, 1991.
Pengujian perbedaan diantara perlakuan menggunakan uji F dengan taraf nyata 5%, Apabila berbeda nyata, dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test pada taraf nyata 5%.
3.4       Pelaksanaan Percobaan
3.4.1    Pemilihan Benih
            Pemilihan benih dilakukan dengan penyeleksian, yaitu dengan cara benih Direndam ke dalam air. Benih yang tenggelam dalam air berarti benih tersebut baik untuk ditanam, sedangkan benih yang mengapung dalam air termasuk benih yang kurang baik untuk ditanam. Benih yang sudah terseleksi (benih yang tenggelam) kemudian direndam dalam air selama 24 jam. Setelah perendaman, benih lalu dilakukan persemaian. 
3.4.2    Penanaman
Benih jarak pagar dikecambahkan di atas kain basah. Setelah 3-5 hari bibit dipindah ke polibeg kecil. Bibit dipindahtanamkan ke kebun percobaan pada umur 6 MST. Jarak tanam yang digunakan adalah 1 m x 1  m. Penanaman dilakukan pada kebun percobaan. Media tanam diberi pupuk yaitu tanah yang dicampur dengan pupuk kandang kotoran sapi 2 kg/tanaman, pupuk dasar : SP-36 (sesuai perlakuan) dan KCl (10 gr/tanaman). Caranya adalah pupuk  SP-36 dan KCl tersebut dicampur ke tanah dilubang tanam. Pupuk urea diberikan sebagai pupuk susulan dan merupakan perlakuan terpisah yaitu pada umur 1 MST dan 4 MST sesuai perlakuan.
3.4.3    Pemiliharaan
Pemeliharaan tanaman meliputi pengendalian gulma, pemupukan, pengairan dan pengendalian hama dan penyakit. Pengendalian gulma dilakukan dengan membersihkan gulma di kebun percobaan. Pemupukan dapat dilakukan pada pinggir tanaman, kemudian ditutup dengan tanah. Apabila terjadi kekeringan yang ditandai dengan layunya tanaman pada siang hari dan kembali segar pada malam hari, perlu dilakukan penyiraman. Penyiraman dilakukan dengan menyemprotkan air pada tanaman melalui gembor. Pengendalian hama penyakit dilakukan apabila terjadi serangan.
3.4.4    Panen
Tanaman jarak dapat dipanen mulai umur 14 minggu setelah tanam. Untuk pemanfaatan sebagai sumber energi buah dipanen yang berwarna kuning bijinya berwarna hitam mengkilat dan keras, biasanya kandungan minyaknya paling tinggi. Cara panen adalah buah dipetik menggunakan tangan lalu dikumpulkan untuk diolah menjadi minyak.
Buah jarak dikupas sampai bijinya terlepas dari buah. Biji kemudian dikeringkan hingga kadar airnya 7 % dan diestrak dengan alat press sampai minyaknya keluar. Produktivitas tanaman jarak pagar IP-3P mencapai 2,3 sampai 2,6 ton/ha/tahun-1 biji kering per hektar per tahun (Hasnam dkk,. 2009).
3.5       Pengamatan
Pengamatan terdiri dari dua macam yaitu pengamatan utama dan pengamatan penunjang.
3.5.1    Pengamatan penunjang
Pengamatan penunjang adalah pengamatan yang melengkapi pengamatan utama dan datanya tidak dianalisis secara statistika, terdiri atas:
Untuk mengetahui respon perlakuan di lapangan dilakukan pengamatan pertumbuhan tanaman. Pengamatan hasil dilakukan pada umur 8 s.d 16 MST dengan selang waktu pengamatan 2 minggu sekali. Petak perlakuan pada setiap pengamatan diambil 4  tanaman sebagai sampel yang diambil secara acak.

3.5.2    Pengamatan utama
Komponen hasil, terdiri atas :
Dengan cara menghitung jumlah tandan bunga setelah tanaman berumur 8 MST.
Dengan menghitung jumlah tandan buah dan menghitung rata-rata jumlah tandan dalam satu tanaman. Tandan buah dapat dihitung setelah 14 minggu pemindahan ke lapangan.
Dengan cara menghitung junlah buah yang ada pada tanaman dan menghitung rata-rata jumlah buah dalam satu tanaman.
Dengan cara menghitung jumlah biji dalam satu tanaman dang menghitung rata-rata jumlah biji dalam satu tanaman.
Dengan cara menghitung rata-rata bobot segar buah dalam satu tanaman.
Dengan cara menghitung rata-rata bobot segar biji pertanaman.
Dengan cara menghitung hasil minyak biji per tanaman (gram). Dengan rumus :
Rendemen = Minyak yang terambil : bobot biji





















0 komentar:

Posting Komentar